B U K A N S E K E D A R M I M P I
-------------------------------------
B y. G I L A N G R A S P A T I
Semalam hujan turun, sehingga pagi ini terasa sangatlah dingin. Adi
dengan terpaksa harus pergi mandi, karena mau tidak mau dia harus pergi kuliah.
Dalam pikirannya masih terbayang mimpinya. Mimpi yang sungguh indah dan rasa-
nya sangat nyata.
Sofie itulah nama wanita yang hadir di dalam mimpinya. seorang wanita
yang dia rasa cukup manis. Walaupun dalam mimpi ia masih ingat bagaimana bentuk
rupanya, suaranya yang merdu dan senyumnya yang selalu ia ingat.
Mata kuliah yang pertama Adi lalui dengan penuh semangat, karena disam-
ping ia suka akan pelajarannya, apalagi dipandu oleh dosen yang kocak. Setelah
selesai Adi dan sahabatnya Ryan pergi ke warung depan untuk membeli rokok.
"Yan, gua semalam mimpi ketemu cewek cakep", kata Adi setelah menyulut
rokoknya.
"Wah, gimana... keramas dong ?", Kata Ryan sambil tertawa.
"Ahh... lu ini selalu negative thingking terus, aku ceritanya kenalan
dengan cewek itu di depan kampus, dan entah kenapa dia langsung aja lengket
kayak perangko", cerita Adi tanpa peduli Ryan mendengarkan atau tidak.
"Ah, itukan hanya mimpi, lagian sejak kapan sih, lu mau ngedeketin
cewek", komentar Ryan.
"Serius Yan, gua juga gak tau, darimana gua dapetin courage kayak itu"
"Udah deh Di, jangan terus dipikirin entar kamu kesambet lagi", Kata
Ryan sambil meninggalkan Adi yang tengah melamun sendirian.
Sementara, Adi yang sadar telah ditinggalkan Ryan pergi, segera menyu-
sulnya tak lupa ia segera membayar uang rokok.
Tepat di depan gerbang Kampus, ada seorang wanita yang tengah memper-
hatikan tingkah kedua sahabat itu. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang
cukup membuat bodinya terlihat seksi. Tanpa sengaja mata Adi beradu dengan
wanita itu.
Tiba-tiba saja Adi terpaku karena dia melihat wanita yang sama persis
dengan yang ada dalam mimpinya, disamping suasananya sangatlah mirip,wanita
itu tampak sedang tersenyum kearahnya. Sambil celingukan mencari orang yang
mungkin wanita itu ajak tersenyum, ia tidak melihat ada seorangpun yang berada
di dekatnya selain dia dan Ryan sahabatnya.
Kontan saja hati Adi terasa ser-ser, dengan gugup ia balas senyuman
wanita itu sambil menganggukan kepala. Eh ternyata wanita itu balas mengangguk-
kan kepalanya. Tentu saja ini membuat hati Adi sangat Ge-Er dan penasaran sete-
ngah mati. Siapa gerangan wanita cantik yang tersenyum kepadanya.
"Yan..Yan, lu lihat gak cewek itu ?"
"Mana ?"
"Arah jam sepuluh pake kaos item"
"Ma... gileee cakep betul, bodinya jack mmmmh ck..ck..ck"
"Lu tau gak, dia itu persis ama yang ada di mimpi gua !"
"Aaah, masaaa... "
"Eeeehh, dibilangin gak percaya"
"Coba kamu deketin, cari tahu siapa namanya !"
"Oke gua samperin..."
Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Adi mendekati wanita itu
yang sedang celingukan melihat ke arah ujung jalan, rupanya dia lagi menunggu
mobil Angkot.
"Hai....", Sapa Adi
"Hai juga, kamu anak kelas J-2 ya ?", Ucap wanita itu sambill tersenyum
manis pada Adi.
"eh.. iya betul, kok tahu sih ?", Jawab Adi terkejut.
"Tahu aja, soalnya ada temenku yang sekelas ama kamu", Jawab Wanita itu
cuek abis.
"Ngomong-ngomong nama kamu siapa ?", tanya Adi dengan penuh kepenasaran.
"Oh iya belum kenalan, saya Sofie dari kelas A-2, panggil aja Fifie,
Kamu Adi kan ?", Ucapnya sambil menjabat tangan Adi.
Kontan Adi terkejut setengah mati, ia hanya sanggup menganggukkan kepa-
lanya, tanpa melepaskan tangannya dari jabatan erat perkenalan ini.
"Udah dong, malu nih..", Kata Sofie sambil tersipu-sipu
"Oh.. Iya", Kata Adi sambil melepaskan tangan halus Sofie.
"Kamu tahu dari siapa sih ?", Sambungnya penuh penasaran.
"Dari... Tina"
"Tina ganjen ?"
"Ohhh, jadi sebutannya Tina ganjen yah ?"
"Iya... memang"
"Eh udah ya, aku mau pulang dulu"
"Oh iya silakan, hati-hati"
Dalam benak Adi timbul seribu satu pertanyaan yang tidak sempat ia ta-
nyakan, Ia hanya berdiri mematung smbil pandangannya mengantar kepergian wanita
yang baru ia kenal ini.
"Gimana Di, bener ?"
"He..Eh, betul namanya aja sama dengan mimpiku semalam, Gila beneeer"
"Waah, itu sih namanya jodoh Di"
"Ah.. jangan gitu, jangan membuat hati orang gembira.."
Lalu ledak tawa mereka terdengar, sehingga hampir-hampir semua orang
memandang kedua sahabat itu dengan pandangan yang aneh.
Sungguh suatu perkenalan yang teraneh. Semuanya hampir sama dengan yang
ada dalam mimpi Adi. Adi secepatnya mencari-cari Tina kesana-kesini, hingga
akhirnya ia temukan Tina sedang jajan bakso di warung Baso.
"Tin.. dicariin malah lagi nongkrong disini !"
"Tumben lu Di, cari-cari gue, gue kan gak punya utang ama elu !"
"Tin, lu punya temen yang namanya Sofie ?", tanya Adi to the point.
"Ooooh... iya, lu dapet salam dari Fifie eh Sofie, dia ngebet loh sama
elu", kata Tina sambill mengedipkan mata dengan genitnya yang khas.
"Nah loh, jadi bener dong"
"Apaannya yang bener ?"
"Ah... enggak koq, oh iya salam kembali ya, Tin"
"Oke asal ada uang comblangnya"
"Sialan lu, Ogah ah dag Tina...!"
"Huuuu dasar pelit !"
Adi keluar dari warung bakso itu dengan hati berbunga-bunga, layaknya
taman bunga ......... yang sedang mekar-mekarnya.
"waduh, jadi nih gua punya pacar. mana dia duluan yang suka ama gua,
emang bener kata Emak-ku, aku ini cakep kayak Rano Karno...", gumam Adi dalam
hati. Memang sudah dari dulu ia suka membanggakan dirinya sendiri walaupun
kenyataanya sungguh berbeda sekali.
Sepanjang hari, lamunan Adi hanya tertuju pada seorang wanita yang baru
ia kenal pagi tadi. Sampai-sampai ia terus-terusan diam di depan gerbang kampus
barangkali saja, dia bertemu lagi dengan Sofie atau Fifie.
Akhirnya pengorbanan Adi tidaklah sia-sia, Sambil duduk di atas pagar
kampus menunggu, Ia lihat ada mobil Angkot berhenti tepat di depan gerbang, dan
turunlah seorang wanita yang tengah ia lamunkan dari tadi.
Kali ini Fifie memakai baju kemeja ungu, dan celana jeans yang ketat
sehingga bentuk kakinya terlihat sungguh seksi, itu hanyalah dalam pikiran Adi
saja, entah kalau orang lain yang melihatnya.
"Fifie... masuk nih ?", sapa Adi sambil menghampiri Fifie.
"Eh kamu, Iya nih pelajaran Pak Murad"
"Boleh di anter ?"
"Boleh aja, kalo kamu gak keberatan"
"Ngomong-ngomong kamu rumahnya dimana, emang kamu asli Bandung ?"
"Ah enggak kok, aku dari desa"
"Dari mana ?"
"Dari Bekasi"
"Ooooo"
Dan percakapan pun tak dapat dielakan lagi dengan serunya. Canda dan
tawa menyertai percakapan mereka. Hingga akhirnya mereka terlihat sangat Akrab
layaknya orang yang sudah berteman lama sekali.
Ryan, yang kini sendirian tanpa Adi sahabatnya sungguh merasa kehilang-
an. Setelah mencari-cari akhirnya ia melihat Adi dan Fifie sedang mojok berdua
di bangku taman.
"Gila... dia udah ngelupain gua, bener-bener nih anak", gerutu Ryan
setelah melihat mereka berdua tengah asyik mengobrol berdua.
"Hallo..., Di kenalin dong"
"Hah..., Oh iya. Fie kenalin ini Ryan sohibku, dan Yan ini Fifie"
"Ryan Aryanto"
"Fifie"
"Kelas mana ?"
"Kelas A-2"
"Oooo sama si Ucok codet ?"
"Hehehe Iya"
"Ooo Iya, Di lu pulang sekarang apa entar ?"
"Emang napa Yan ?"
"Engga cuman, kalo sekarang gua ikut, kalo entar gua pinjem kuncinya
dong, gua mau ngetik nih"
"Oooo nih"
"Udah ya, jadi gak enak nih ngeganggu, silahkan diteruskan"
Setelah Ryan meninggalkan kedua orang yang sedang asyik berdua ini,
Adi dan fifie pun kembali melanjutkan obrolan mereka tanpa ada tanda-tanda
mereka tadi berhenti ngobrol. Rupanya mereka sudah merasakan kalau dunia ini
sudah jadi milik mereka, orang lain hanya numpang saja.
Hubungan Adi dan Fifi akhirnya resmi sudah menjadi sepasang kekasih.
Berkat jasa Tinalah akhirnya mereka berdua dapat bersatu, hingga akhirnya
mereka berdua selesai kuliah dan segera menikah.
Dalam malam pertama, Adi kelelahan setelah malam pengantin mereka.
Tetapi ada satu rasa yang aneh didalam dada Adi. Ada sesuatu yang sangat
janggal. Kenapa setelah malam pengantin, ia melihat Fifie yang tertidur di
sebelahnya bermuka sangat jauh berbeda ketika tadi waktu mereka berdua ber-
sanding di pelaminan.
Dia melihat wajah Fifie sangatlah jauh dari waktu ketika ia kenal.
Ada rasa menyesal dalam hati Adi, kenapa ia sampai-sampai jatuh hati kepa-
danya. Hingga akhirnya mereka menikah.
Seminggu setelah mereka berdua menikah pengalaman ini ia ceritakan
kepada sahabatnya Ryan, yang tahu dari awal hubungan mereka berdua.
"Aneh Yan, aku tiba-tiba nggak suka, benci banget ama si Fifie !"
"Loh, emang kenapa Di, servisnya tidak memuaskan ?"
"Ngga juga, tapi aku benci aja ama dia"
"Wah... jangan-jangan..."
"Jangan-jangan kenapa, Yan ?"
"Jangan-jangan kamu kepelet sama si Fifie !"
"Ah... lu ini, ada-ada aja, sekarang kan jamannya millenium, masak sih
lu masih percaya ama hal-hal kayak begitu !"
"Eeeehhh, denger dulu Di, pertama kamu kan ketemu dengan si Fifie di
dalam mimpi, ya kan ?"
"Lalu kamu tiba-tiba saja suka padanya entah kenapa, ya kan ?"
"Dan kamu enggak tahu kenapa, setelah dia minta kawin, kamu langsung
setuju, walaupun kamu harus bertengkar dulu sama Bokap-Nyokap dan kakaklu yang
belon kawin, ya kan ?"
"Lalu kesimpulannya apa Yan ?"
"Begini aja, lu gua anter ke Pak Kiai, orang pinter yang ada di kampung
gua, gimana ?"
"Oke, gimana kalo besok ?"
"Oke asal, semua ongkosnya lu yang bayarin !"
"Huuu dasar...!!!"
Besok harinya, sampailah kedua sahabat kental ini di sebuah rumah se-
derhana yang tampak asri. di pagari oleh berbagai tumbuhan yang sangat berguna
untuk sehari-hari. Tampak ada seorang lelaki berambut hampir memutih tengah
duduk santai di kursi goyangnya.
"Assalammu'alaikum Wak Haji"
"Wa Alaikumsalam, eh nak Ryan.. ayo masuk !"
"Waaah, sudah jadi orang kota sekarang ya, sampe-sampe jarang pulang
kampung"
"Aaah, enggak juga. Cuman banyak kerjaan Wak"
"Oh iya, kenalin Wak, ini temen Ryan dari Bandung"
"Oooo, kenalin nak, Sabeni"
"Saya Adi, Wak"
"Dari kota ya ?"
"Iya, Wak sengaja langsung kesini"
"Wah..wah, emang ada perlu apa nih, jadi penasaran ?"
"Gini wak, temenku ini, Adi. Sudah menikah seminggu lalu"
"Hmmmm... terus, persoalannya kenapa ?"
"Enggak tahu kenapa, Si Adi ini tiba-tiba benci melihat istrinya, saya
jadi curiga wak, jangan-jangan si Adi ini dipelet !"
"Wah..wah, jaman sekarang masih ada yang main pelet-peletan. Hmmmm
coba nak Adi, kesini... bisa wak lihat tangannya ?"
Lalu wak haji memejamkan matanya, lalu bibirnya komat-kamit dan dia
meraba-raba telapak tangan Adi. Sett..!, tiba-tiba wak haji menarik tangannya
yang membuat hati Adi yang deg-deg-an semakin berdetak keras.
"Hmmmmm, Wak ngga berani bilang nak Adi ini kepelet atau kena guna-guna
soalnya, wak lihat memang peruntungan nak Adi ini agak sedikit buram dan ten-
tang istrinya, wak gak tahu pasti, tapi.... kelihatannya sih begitu, tapi Nak
Adi jangan terlalu percaya, untuk memastikannya.... Sebentar"
Kemudian wak Haji masuk ke dalam rumah, sesaat kemudian wak Haji kembali
sambil membawa bungkusan kecil.
"Gimana wak ?"
"Ini coba nak Adi, taruh di lemari atau meja rias istri kamu, pokoknya
yang sering terlihat oleh istri kamu, kalau dia tiba-tiba enggak mau mendekat
apalagi menyentuh bungkusan ini, jelas nak Adi memang dipelet sama istrinya.
Tapi wak Haji pesan, kalau memang terbukti, cobalah nak Adi bersikap dewasa
terbawa emosi sehingga membuat rumah tangga yang sudah sah ini jadi berantakan"
"terima kasih wak"
Setelah kedua sahabat itu berpamitan, maka mereka berdua terlibat dalam
percakapan tentang Fifie, yang tega-teganya memelet Adi, padahal tanpa dipelet
pun kalo dalam pikiran Ryan, asal wanitanya yang mau pasti Adi minimal merespon
nya dengan sangat senang hati, soalnya selama dua tahun sebelum pertemuannya
dengan Fifie, Ryan tahu kalau Adi itu sangatlah pemalu kalau berhadapan dengan
cewek.
"Dari mana saja ?"
"Habis jalan-jalan"
Lalu, Adi menuruti perintah Wak Haji, dan menaruh bungkusan kecil itu
di atas meja rias Fifie. tak lama kemudian Fifie pun masuk, dan dengan santai
Adi menutup pintu kamar dan menguncinya. hanya sekedar jaga-jaga kalau-kalau
Fifie kabur.
Tiba-tiba tubuh Fifie bergetar dengan hebat. Sambil berusaha untuk
keluar, dia berteriak-teriak histeris. Adi kaget setengah mati melihat reaksi
yang begitu menakutkan.
"Adi, kamu bawa apaan, cepat buang !"
"Ke..kenapa kamu Fie ?"
"Pokoknya buang benda itu !"
"Emangnya kenapa Fie, kamu enggak suka ada bungkusan di meja rias kamu,
kali aja itu kue bawaanku tadi"
"Aku gak percaya, pokoknya cepat singkirkan, aku gak tahan...!!"
Akhirnya Adi mengambil bungkusan itu dan menyimpannya di dalam lemari.
Lalu Fifie terpuruk lesu setelah Adi menyingkirkan barang itu.
"Kenapa sih pintunya dikunci ?"
"Ah.. enggak, Fie... kurasa sekarang kamu harus bicara jujur !"
"Memang ada yang salah, apa aku kurang menunjukan cintaku ?"
"Cintamu padaku kurasa lebih dari cukup, dan aku hanya butuh kejujuran
mu. Aku tahu kalau kamu memeletku, ya kan ?"
"Ah... siapa bilang, masa kamu masih percaya takhayul sich"
"Tuh kan, kamu gak mau jujur, coba aku keluarin lagi bungkusan tadi"
"Ja..jangan, Baiklah aku ngaku"
"Maafkan aku Di, memang benar aku memelet kamu, tapi sumpah itu karena
aku sudah putus asa, karena disamping ayahku yang terus-terusan mendesak aku
untuk segera menikah, karena aku juga sangat menyukaimu"
"Tapi kenapa memakai jalan yang salah ?"
"Aku tahu aku salah, tapi sejak aku lihat kamu, kamu sepertinya tidak
menyadari kalau aku ini hidup di dunia, walaupun aku sudah sering mencuri pan-
dang dan mengajak senyum tapi kamu itu cuek abis, lalu aku dapat info dari
Tina tentang kamu, maka malam sebelum pertama kali kita resmi berkenalan, aku
mulai melakukannya"
"Oooo jadi mimpi itu..."
"Iya betul, Maafkan aku ya Di"
"Kenapa Fie, kenapa bukankah bila melalui jalan yang normal itu lebih
enak ?"
"Maafkan aku, Tolong lah, aku kapok Di, Maafkan aku"
Adi melihat Fifie yang tengah menangis di kakinya, merasa haru. Walau-
pun tadi ia sangat membenci wanita yang ada didepannya. Lama-lama setelah di
pikir di bulak-balik, memang Fifie memeletnya, tapi dia sungguh sangat besar
pengorbanannya kepadaku. Fifie lah yang mendorong semangatku sehingga akhirnya
aku lulus dan mendapat pekerjaan, pikir Adi.
Akhirnya, Adi meraih pundak Fifie, perlahan ia angkat dagu Fifie yang
tengah tertunduk, ia lihat wajah Fifie yang pucat penuh penyesalan. Entah ke-
napa, tiba-tiba wajah yang sayu penuh penyesalan ini tampak bagi Adi seperti
wajah yang memancarkan cahaya. Ya cahaya kejujuran dan penyesalan dari sese-
orang yang sungguh-sungguh bertobat.
"Sudahlah, aku maafkan kamu, apalagi kita sekarang sudah berumah tang-
ga, aku yakin semuanya sudah takdir yang di atas. Hanya dua pintaku, Cobalah
kamu mulai sekarang rajin sembahyang dan bertobat, lalu yang kedua buanglah
ilmu hitam itu !"
"terima kasih Di, sungguh hatimu sungguh baik, mulai sekarang aku ber
janji akan bertobat"
"Ya sudah, sekarang cepetan sana mandi, dan siapkan makanan aku laper
nih !", Suruh Adi sambil menepuk-nepuk pipi Fifie.
Senyuman sekilas tersirat dari wajah Adi, senyuman yang membuat hati
Fifie sangat nyaman. Senyuman seorang suami yang sangat menyintai Istrinya.
Kemudian Adi melihat diatas sana bulan purnama, yang lambat tapi pasti tertu-
tupi oleh awan tipis. Seperti sedang tersenytum kearahnya.
Bandung 17 Desember 1999 13:20:15 pm
Copyright
© 2000 Gilang Raspati. All rights reserved.
Contact : lanks17@usa.net
Revised:
May 10,2000